Pelindo Tetap Tolak Hasil Sounding

Pelindo Tetap Tolak Hasil Sounding

\"MattasarBENGKULU, BE - PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) II Cabang Bengkulu tetap menolak menandatangani berita acara hasil sounding atau pengkuran kedalam alur pelabuhan yang dilakukan oleh tim terpadu pada 25-26 Fabruari lalu. Pelindo beralasan, penolakan itu dikarenakan berita acara tersebut tidak sesuai dengan hasil sounding yang sebenarnya. Dalam berita acara itu menyebutkan kedalaman alur hanya 10 meter. Sedangkan menurut Pelindo, kedalaman alur atau center line alur tetap 13,5 hingga 14 meter. \"Kami tidak mau mengakui data yang terdapat pada berita acara hasil sounding, karena datanya tidak sesuai dengan hasil sounding yang sebenarnya,\" kata Advisor Pengendalian Kinerja dan PFSO PT Pelindo II Bengkulu, Mattasar SR SE kepada BE, kemarin. Karena itu pula, pihaknya mengirim surat ke Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Paulau Baai Bengkulu meminta agar redaksional berita acara hasil sounding itu diubah, bahwa kedalaman 10 meter tersebut berada di pinggir alur, bukan di alur yang dilalui setiap kapal yang keluar-masuk pelabuhan. Menurutnya, berita acara tersebut dibuat oleh KSOP bersama anggota tim terpadu yang lainnya, dan pihak Pelindo hanya diminta menandatanganinya setelah berita acara itu selesai. Bahkan Mattasar mengungkapkan, yang terindikasi melakukan pembohongan publik adalah anggota tim terpadu selain Pelindo. Sedangkan Pelindo sudah benar, karena sejak awal ia sudah menyampaikan bahwa kedalam 10 meter tersebut berada di pinggir alur, sedangkan dialurnya tetap diatas 13 meter. \"Kami tidak mau dikatakan pembohongan publik, justru mereka yang menghianari hasil sounding,\" tegas mantan calon bupati Bengkulu Tengah ini. Dengan kedalaman 13,5 hingga 14 meter tersebut, menurutnya bisa dilalui oleh kapal dengan berat mencapai 40 ribu ton. Namun belakangan ini hanya kapal dibawah 30 ribu ton yang melakukan aktivitas keluar masuk alur. Mattasar juga mengaku, pihaknya siap melakukan sounding ulang jika memang KSOP dan anggota tim lainnya tetap bersikukuh menyatakan kedalam alur hanya 10 meter. \"Saya katakan bahwa berita itu salah, jika tidak percaya  kami siap mengikuti sounding ulang,\" sampainya. Di sisi lain, ia juga menduga ada pihak yang bermain terhadap hasil sounding tersebut yang memiliki tujuan tertentu. \"Sebenarnya persoalan ini tidak perlu dibesar-besarkan, kecuali bagi orang yang memiliki kepentingan tertentu,\" tutupnya. Sekadar mengingatkan data sounding disebutkan kondisi kedalaman alur pelayaran dan kolam pelabuhan mengalami pendangkalan (data lengkap lihat grafis). Bahkan hasil perbandingan antara Peta Laut Indonesia No 33 Tahun 2009, koreksi Berita Pelaut Indonesia (BPI) No 11 tanggal 12 Maret 2012 dengan hasil sounding dan pengamatan di lapangan terdapat perbedaan angka kedalaman yang sangat signifikan dan perubahan garis pantai (topografi). Dengan begitu peta laut tersebut sudah tidak layak dipakai dan perlu diperbaharui agar lebih akurat dan tidak merugikan pengguna jasa pelayaran. Bahkan, tim pun merekomendasikan agar Dermaga Samudera diuji kelayakannya. Data sounding itu merupakan hasil pemeriksaan tim yang terdiri dari berbagai elemen. Diantaranya Direktorat Pelabuhan dan Pengerukan Ditjen Hubla, KSOP Kelas III Pulau Baai, Dishubkominfo Provinsi, Lanal Bengkulu, Pol Air Polda Bengkulu, Polsek, PT Pelindo, INSA, APBMI dan Gaffeksi. Diketahui dari dokumen tersebut, kegiatan sounding dilakukan pada 25 Februari lalu dibagi menjadi tiga bagian. Pertama di boat sounding dengan menggunakan peralatan echosounder (teledyne odom echotrec CV-100), trimbie R6 (GPS/rover station), Radio link TDL 450 H dan software HYDROpro Navigation serta diawali dengan kegiatan ber-check untuk mengkalibrasi echo-sounder yang digunakan. Kedua melakukan pengukuran pasang surut yang dilaksanakan di dermaga nelayan menggunakan peralatan meteran/lot, yaitu pencatatatan ketinggian air per interval 15 menit. Dan terakhir penentuan posisi dilakukan dengan referensi titik N2 menggunakan peralatan Trimble R5 atau base station dilaksanakan selama waktu sounding. Fokus sounding dilakukan di beberapa area yaitu, centerline alur dari titik 0 hingga 2000. Kemudian sekitar rambu suar warna hijau ujung breakweter dari titik 1.500 hingga 1.600, sekitar pelampung suar warna merah sisi kiri alur pelabuhan dari titik 100 hingga 200. Selain itu di sekitar turning basin dan sekitar depan Dermaga Samudera.  Metode pengambilan data sounding dikoreksi dengan nila kedalaman transdusser atau 60 cm. Pengolahan data menggunakan software Terramodel HDMS dikoreksi dengan nilai pasang surut. Hasilnya didapatkan hasil bahwa kedalaman centerline alur atau as alur pelayaran dari titik 0 sampai titik 2000 kedalamannya antara 12,4  hingga 14 meter. Jika dibandingkan dengan sounding yang dilakukan pada bulan Januari jelas terlihat jika pelabuhan Pulau Baai memang mengalami pendangkalan karena hasil sounding pada tanggal 25 Januari 2014 memperlihatkan kedalaman alur pelayaran adalah 14,7 hingga 14,5 meter. Sedangkan di sekitar rambu suar warna hijau di ujung breakwater yaitu dari titik 1.500 hingga 1.600 juga mengalami pendangkalan. Pada sounding bulan Januari kedalaman di titik tersebut adalah 11,3 hingga 14,3 meter. Namun berdasarkan hasil sounding Februari kedalamannya adalah 10,8 hingga 14,1 meter. Untuk wilayah sekitar alur ada satu titik yang tidak mengalami pendangkalan yaitu di sekitar pelampung suar warna merah atau sisi alur masuk pelabuhan dari titik 100 hingga 200 didapatkan hasil 13,0 hingga 14,1 meter. Sementara itu untuk kondisi di kolam yaitu di turning basin kedalamannya 13,3 hingga 14,3 meter mengalami pendangkalan menjadi 12,9 hingga 14,0 meter. Dan untuk sekitar Dermaga Samudera yang digunakan untuk muat batu bara juga mengalami pendangkalan dari 10,0 hingga 12,0 menjadi 10,2 hingga 11,5 meter. Dari hasil sounding tersebut jelas terlihat pendangkalan kondisi kedalamana alur pelayaran dan kolam pelabuhan mengalami pendangkalan. Dalam surat yang ditantatangani tim terpadu sounding tersebut, tim menyatakan secara umum fasilitas Pulau Baai Bengkulu dalam kondisi baik. Namun terkait dengan terkait dengan fasilitas pelabuhan khususnya Dermaga Samudera yang dibangun pada tahun 1963 disarankan untuk dilaksanakan uji kelayakan.(400)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Sumber: