Temukan Arsiran Lambang PKI di Uang Rp 2.500
Untuk membelanjakan upahnya, para pemilik kebun biasanya menyediakan warung yang menjual kebutuhan para pekerja selama berada di perkebunan. \"Tentu saja uang itu tidak bisa digunakan di tempat lain.\"
Dari penelusurannya terhadap sejumlah mata uang lokal, Alim mendapat kesimpulan bahwa Bank Indonesia sering kecolongan saat membuat uang baru karena kurang teliti. Padahal, itu sangat berbahaya. Dia mencontohkan uang kertas nominal Rp 2.500 keluaran 1957.
Sekilas, tidak ada yang aneh dengan uang kertas bergambar suasana desa pesisir dan hewan komodo itu. Namun, jika diperhatikan lebih detail, di atap salah satu rumah dalam gambar itu terdapat arsiran simbol palu arit, lambang Partai Komunis Indonesia (PKI).
Begitu pula dengan uang logam Rp 100 yang beredar saat ini. Pada lambang sila keempat Pancasila (kepala banteng), terdapat arsiran berupa garis-garis pada latar belakang lambang tersebut. Tapi, arsiran itu tidak selalu ada dalam uang logam Rp 100. Sebagian cetakan tidak menggunakan arsiran sebagai latar belakang.
\"Apa maknanya, silakan ditanyakan kepada si perancangnya,\" tutur pria yang berulang tahun setiap 25 Januari itu.
Penelitian Alim terhadap mata uang lokal membuat dirinya sering berurusan dengan sejumlah tokoh penting. Salah satunya Mr Sjafruddin Prawiranegara (1911-1989), menteri keuangan era pemerintahan Soekarno-Hatta yang dikenal karena kebijakannya menggunting nilai mata uang. Kebijakan itu kemudian terkenal dengan sebutan Gunting Sjafruddin.
Dia juga berurusan dengan Republik Maluku Selatan (RMS) melalui seorang perantara. Dari situ, dia mendapat uang yang berlaku dan beredar di kalangan anggota RMS. Yakni, uang gulden yang diberi stempel RMS.
Juga, uang yang beredar saat pemberontakan Permesta. Alim mengungkapkan, dirinya sempat mewawancarai Kolonel Ahmad Husein yang saat pemberontakan terjadi menjabat panglima Dewan Banteng. Sayangnya, Husein menolak membicarakan mata uang yang berlaku di kalangan para pemberontak itu.
\"Dia bilang, buat apa kita ungkit masa lalu? Kami ini orang yang kalah perang,\" ucapnya.
Yang paling berkesan adalah saat Alim berupaya mewawancarai tokoh yang pernah terlibat dalam kepanitiaan pembuat Oeang Repoeblik Indonesia (ORI). Bukannya mendapat penjelasan, Alim justru diusir dari kediaman sang tokoh. Meski begitu, anak ketiga di antara empat bersaudara itu tetap mendapat informasi tentang ORI dari sumber-sumber yang bisa dipercaya.
Alim juga meneliti uang dempo yang beredar pada era Agresi Militer Belanda II. Uang itu muncul sesaat dan beredar di kalangan tentara yang bertahan di Sumatera Selatan. Masa pencetakannya hanya berlangsung seminggu karena para tentara tidak sabar menunggu datangnya logistik dari pemerintah pusat. Uang tersebut dibelanjakan ke penduduk setempat, meski belum tentu bisa ditukarkan kembali saat agresi berakhir.
Menurut Alim, penelitian mengenai mata uang sangat penting dilakukan. Lewat mata uang, sejarah perkembangan suatu bangsa bisa terungkap. Dia pun menulis sebuah katalog mata uang Indonesia bersama seorang rekannya.
Saat ini, Alim menjadi penyumbang data untuk Standard Catalogue of World Paper Money dan Standard Catalogue of World Coins. Keduanya merupakan katalog uang kuno internasional. Alim juga menjadi member organisasi Numismatic International.
\"Hambatan yang biasa kami hadapi adalah kebijakan pemerintah yang cenderung tertutup soal mata uang. Mau tidak mau, kami harus mencari sendiri informasi penting itu,\" jelasnya.
Meski demikian, Alim menegaskan tidak akan menyerah. Dia akan terus meneliti mata uang di Indonesia. \"Karena keterbatasan yang saya alami, saya belum mampu keliling Indonesia. Tapi, saya masih ingin berkarya,\" tegasnya. (*/c5/ari)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



