Dalam Sekejap Langsung Dapat 80 Klien
Mimpi Yu Sing awalnya sederhana: setiap tahun bisa membuat lima desain rumah murah untuk masyarakat dengan uang pas-pasan yang ingin membangun rumah. \"Jika saya dianugerahi umur panjang, misalnya 20 tahun ke depan, setidaknya saya bisa membantu membuatkan seratus desain rumah murah. Paling tidak, itulah sumbangsih saya dalam memasyarakatkan arsitektur,\" ucapnya.
Ayah Arga Kaleb Prabhaswara tersebut mengakui, selama ini dunia arsitektur seolah dijauhkan dari masyarakat kurang mampu. Seolah arsitektur hanya dimonopoli orang-orang kaya yang ingin membangun rumah mewah dan bangunan megah.
Rupanya, kondisi itu memiliki efek yang tidak sepele. Karena mayoritas masyarakat Indonesia adalah kelompok kelas menengah dan bawah yang tidak mampu menjangkau biaya jasa arsitektur, rumah-rumah mereka dibangun seadanya, tanpa desain arsitektur yang sehat dan enak dilihat. Akibatnya, wajah fisik sebuah kota atau suatu wilayah menjadi tidak sedap dipandang, menghadirkan suasana sumpek dan muram.
\"Bayangkan kalau rumah-rumah itu dibangun dengan arsitektur dan perencanaan yang baik, tidak harus mahal, pasti wajah kota menjadi lebih tertata dan enak dilihat. Masyarakat yang tinggal di situ pun bisa bangga dengan rumahnya dan lebih peduli merawat lingkungannya,\" tutur dia.
Ide tersebut terus disuarakannya, baik di lingkungan para arsitek yang tergabung dalam Asosiasi Arsitek Indonesia (AIA) maupun perkumpulan lainnya. Namun, ide itu jadi perbincangan ramai setelah pada 2007 Yu Sing menulis opini di sebuah harian ibu kota. Opini tersebut berisi tentang pentingnya desain arsitektur bagi masyarakat kurang mampu. Dalam artikel itu, dia juga menyatakan kesediaannya untuk membantu mendesainkan rumah murah bagi siapa yang membutuhkan jasanya.
Undangannya langsung mendapatkan respons dari 80 orang yang ingin digambarkan arsitektur rumah murahnya. Kebanyakan calon pengantin atau keluarga muda yang ingin membangun rumah, namun dananya terbatas. Tapi, ada pula yang sudah memiliki rumah dan ingin merenovasinya.
Mereka berasal dari berbagai kota di Indonesia, mulai Aceh, Pekanbaru, Jakarta, hingga Papua. Profesi mereka beragam. \"Ada karyawan swasta, buruh, guru, PNS, dan polisi. Ada pula pekerja perkebunan karet di Sumatera yang untuk mengirim e-mail saja harus pergi jauh ke warnet dan meminta tolong penjaga warnet untuk membantunya mengirim e-mail,\" ceritanya sambil geleng-geleng kepala.
Dengan tekun Yu Sing membalas surat elektronik yang masuk itu satu per satu. Sebelum mendesain rumah, dia meminta beberapa data teknis. Misalnya luas tanah, luas bangunan yang diinginkan, serta posisi tanah (arah mata angin). Juga data nonteknis seperti jumlah keluarga, pekerjaan, hobi anggota keluarga, hingga adakah filosofi daerah yang ingin dimunculkan dalam desain rumahnya.
Begitu mendapatkan data, Yu Sing mulai bekerja. Hasil desain lantas di-e-mail balik ke para pengirim. Beberapa rumah akhirnya berdiri dengan desain arsitekturnya. Tapi, ada pula yang belum terwujud karena dananya belum cukup.
Puluhan desain itulah yang kemudian dituangkannya dalam buku Mimpi Rumah Murah. Dalam buku tersebut dia menukilkan delapan desain rumah dengan konsep yang berbeda-beda. Yakni Rumah Daur Ulang, Rumah Perpaduan Tradisi Lokal dan Masa Kini, Rumah Mimpi Buruk dan Mimpi Indah, Rumah Publik, Rumah Liburan, Rumah Cinta Segi Tiga (Hobi, Pekerjaan, dan Jalan Hidup), Rumah 700 Pohon, serta Rumah Desa.
Namun, pengalaman mendesain rumah murah itu ternyata kerap membawa konsekuensi di kemudian hari. Sebab, banyak masyarakat kurang mampu yang akhirnya kebingungan menyelesaikan rumahnya. Maka, selain membantu desain rumah murah, Yu Sing tidak jarang merogoh koceknya untuk membantu biaya pembangunan rumah kliennya. Dia pun menggandeng beberapa rekannya untuk menggalang dana dengan skema crowd funding, salah satunya melalui komunitas wujudkan.com.
\"Salah satunya di Dago (Bandung), ada rumah yang sudah tua, mau roboh, kami desain ulang, lalu dibangun dengan dana Rp 27 juta,\" kisahnya.
Program filantropi semacam itu lantas berlanjut melalui aksi Papan untuk Semua. Bukan hanya itu, Yu Sing juga aktif dalam kegiatan Habitat for Humanity, sebuah lembaga nirlaba internasional yang membantu masyarakat kurang mampu untuk memiliki atau memperbaiki rumah dengan sistem menabung secara berkelompok. Di Indonesia lembaga ini mengusung slogan \"Good Design for Everyone\".
Ketika diundang sebagai pembicara di forum seminar atau diskusi kampus, Yu Sing juga selalu menyebarkan virus kepada para arsitek muda agar lebih peduli kepada masyarakat kurang mampu. Hasilnya, kini muncul arsitek-arsitek muda di beberapa kampus yang membentuk jaringan advokasi desain rumah murah di wilayah masing-masing.
Dengan perhatiannya yang begitu besar pada desain rumah murah, apakah usaha jasa konsultan Yu Sing meredup\" Tidak juga. Saat ini, dengan dibantu empat staf di Studio Akanoma, Yu Sing bisa mendapatkan hingga 20 proyek desain dari klien-klien besar setiap tahun. \"Kami hanya bisa bersyukur,\" ujar arsitek dengan karakter unik tersebut. (*/c9/ari)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



