Banner HONDA

Hutan Mukomuko Makin Mencekam, Kini Harimau Sumatera Mati di Tengah Kebun Sawit Ilegal

Hutan Mukomuko Makin Mencekam, Kini Harimau Sumatera Mati di Tengah Kebun Sawit Ilegal

Hutan Mukomuko Makin Mencekam, Kini Harimau Sumatera Mati di Tengah Kebun Sawit Ilegal--

BENGKULUEKSPRESS.COM – Rentetan kabar duka dari hutan Mukomuko seolah tak kunjung usai. Belum tuntas penyelidikan atas kematian dua ekor Gajah Sumatera beberapa hari lalu, warga kembali dikejutkan dengan temuan seekor Harimau Sumatera yang mati di dalam kubangan air pada Jumat pagi, 1 Mei 2026.

Sang predator puncak tersebut ditemukan di kawasan Hutan Produksi Air Ipuh II, tepatnya di Desa Bukit Makmur, Kecamatan Penarik, sebuah area yang kini kondisinya sudah berubah drastis akibat meluasnya kebun sawit ilegal.

​Kepala KPHP Mukomuko, Aprin Sialoho, mengungkapkan bahwa lokasi penemuan harimau ini memang berada di zona rawan. Ia membenarkan bahwa kawasan tersebut satu jalur dengan lokasi matinya dua gajah sebelumnya. 

"Kalau kawasan hutan dekat Bukit Makmur itu masuk HP Air Teramang, satu kawasan hutan dengan 2 ekor gajah yang ditemukan mati sebelumnya," jelas Aprin. 

Ia menambahkan bahwa kondisi hutan di wilayah tersebut sudah sangat memprihatinkan karena lebih dari 60 persen kawasan hutan produksi seluas 16.748 hektare itu telah beralih fungsi menjadi perkebunan sawit tanpa izin.

BACA JUGA:Penataan Pantai Panjang Dikebut, Sehmi: Wujudkan Kawasan Wisata Tertib, Nyaman, dan Berdaya Saing

BACA JUGA:May Day Tanpa Aksi di Mukomuko, Dialog Buruh–Pemkab Hasilkan Empat Tuntutan Strategis

​Lebih lanjut, Aprin menegaskan bahwa kematian satwa dilindungi di wilayah tersebut bukan kejadian yang baru kali ini terjadi. Menurutnya, kerusakan habitat akibat pembukaan lahan ilegal telah memicu konflik satwa dan manusia dalam waktu yang lama. 

"Di wilayah itu sebelumnya juga pernah ada beruang madu yang terkena jerat, artinya ancaman terhadap satwa sudah lama terjadi," tuturnya.

penanganan di lapangan, pihak kepolisian pun langsung bergerak cepat begitu mendapatkan laporan warga. Namun, petugas menghadapi tantangan berat berupa medan yang sulit ditembus dan minimnya sinyal komunikasi di tengah hutan. 

Kapolsek Penarik, Iptu Atrawan Saswan, mengatakan bahwa timnya telah dikerahkan sejak pagi hari untuk mengecek kebenaran informasi tersebut. 

"Anggota sudah bergerak ke lokasi sejak mendapat informasi pagi tadi, namun komunikasi masih terkendala," ungkap Iptu Atrawan.

Saat ini, pihak kepolisian masih menunggu laporan lengkap dari tim yang berada di lokasi. Iptu Atrawan menegaskan bahwa pihaknya terus menjalin koordinasi dengan BKSDA Resor Mukomuko guna memastikan penanganan satwa dilakukan sesuai prosedur. 

"Untuk memastikan penyebab kematian, kami berkoordinasi dengan BKSDA dan menunggu hasil pemeriksaan di lapangan," tutup IPTU Atrawan.  (**)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: