Siswa MIN 2 Ketahun Pingsan Lalu Meninggal Setelah Konsumsi MBG, Hasil Diagnosa Bukan Karena Keracunan
Kapolres Bengkulu Utara, AKBP Bakti Kautsar Ali SSos SIK MH bersama pihak Dinas Kesehatan Dan pihak Rumah Sakit Bhayangkara dan Rumah Tiara Sela mengadakan press release atas kasus meninggal dunia siswa MIN Ketahun MS, pada Selasa malam 3 Maret 2026.-IST-
ARGA MAKMUR, BENGKULUEKSPRESS.COM – Misteri meninggalnya MS (8), siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 2 Ketahun yang sempat diduga keracunan paket Makanan Bergizi Gratis (MBG), akhirnya terungkap. Hasil pemeriksaan medis dan uji laboratorium memastikan korban meninggal dunia akibat pendarahan di otak, bukan karena faktor makanan.
Kepastian ini disampaikan dalam press release resmi yang dipimpin langsung Kapolres Bengkulu Utara, AKBP Bakti Kautsar Ali, S.Sos., S.I.K., M.H., bersama Dinas Kesehatan, RS Bhayangkara, dan RS Tiara Sela pada Selasa malam (3/3).
Berdasarkan hasil pemindaian CT Scan, tim dokter menemukan adanya pendarahan serius di bagian kepala korban yang memicu penggumpalan cairan. Kondisi inilah yang menyebabkan kegagalan fungsi jantung dan pernapasan.
“Hasil pemeriksaan medis dan CT Scan menunjukkan adanya pendarahan dan penggumpalan cairan di kepala korban. Inilah penyebab utama terhentinya fungsi jantung dan pernapasan, jadi murni karena faktor medis pendarahan otak, bukan keracunan,” tegas AKBP Bakti Kautsar Ali.
BACA JUGA:Putra Mantan Bupati Reskan Effendi Dipercaya Jabat Plt Camat Pasar Manna
BACA JUGA:Warem Bentiring Permai Digerebek, Miras Diamankan dan Motor Pengunjung Disita
Guna mematahkan spekulasi yang berkembang, Dinas Kesehatan telah mengirimkan sampel makanan dari dapur SPPG Giri Kencana ke Balai POM. Uji laboratorium dilakukan secara menyeluruh mencakup parameter zat kimia hingga mikrobiologi.
Hasilnya, seluruh sampel dinyatakan negatif dari kandungan zat berbahaya seperti boraks, sianida, arsenik, maupun bakteri patogen. Kepolisian menegaskan tidak ada unsur kelalaian atau kontaminasi dalam paket makanan yang didistribusikan ke 1.843 siswa di tujuh sekolah tersebut.
Peristiwa bermula pada Kamis (26/2), saat korban mengonsumsi paket MBG di rumah sepulang sekolah. Sekitar pukul 12.30 WIB, korban mengeluh pusing lalu pingsan. Setelah sempat dibawa ke klinik dan RS Lagita, korban dirujuk ke RS Bhayangkara pada Jumat (27/2) untuk menjalani CT Scan.
Lantaran kondisi yang terus menurun akibat pendarahan otak, korban kembali dirujuk ke RS Tiara Sela pada Sabtu (28/2) untuk tindakan operasi. Namun, meski upaya maksimal telah dilakukan, korban dinyatakan meninggal dunia pada pukul 21.42 WIB.
“Kami berkomitmen untuk transparan. Hasil ini diharapkan memberikan kejelasan bagi keluarga dan menghilangkan kekhawatiran masyarakat luas,” pungkas Kapolres.(**)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:




