Ia diketahui bergabung dengan pesaren atau Sekaa Truni pada masa itu. Tugasnya di pesaren adalah menarikan tari rejang yang sakral setiap kali piodalan di Pura Bale Agung. Selain itu ia juga lebih banyak menenun membuat kain songket atau kain endek.
“Pada zaman itu tempat paling efektif bersosialisasi di kalangan wanita itu, selain di upacara yadnya, ya saat menenun,” imbuh Hardika. Singkat cerita Nyoman Rai Srimben bertemu dengan Raden Soekeni Sosrodiharjo pada tahun 1890-an.
Raden Soekeni yang saat itu ditugaskan sebagai guru di Sekolah Rakyat (SR) 1 Singaraja – kini SDN 1 Paket Agung – oleh pemerintahan kolonial, jatuh cinta pada Srimben saat melihat Srimben menari rejang di Pura Bale Agung, tepat saat umanis galungan.
Saat itu Soekeni yang memiliki darah biru dari Panembahan Senopati dan Sunan Kalijaga itu sempat melempar Srimben menggunakan bunga cempaka. Konon Soekeni sudah sering melihat Srimben saat menenun.
Keduanya kemudian kawin lari. Kawin lari adalah hal yang sangat ditentang oleh penglingsir di Bale Agung. Pernikahan itu dianggap melanggar tradisi yang ada, karena di Bale Agung, wanita tak boleh dipersunting pihak luar.
Pernikahan itu pun menyebabkan Raden Sukemi harus menjalani persidangan pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Pemerintah Belanda menganggap Sukemi menyebabkan kegaduhan di masyarakat, kegelisahan para tokoh, dan kekacauan pada sistem tatanan adat di Bale Agung.
Soekeni saat itu dijatuhi sanksi denda sebesar 40 ringgit, karena terbukti menyebabkan kegaduhan. Salah satunya melakukan pernikahan dalam tradisi Jawa, tanpa persetujuan keluarga, atau yang kini dikenal dengan kawin lari.
Denda itu akhirnya dibayar Nyoman Rai Srimben dengan perhiasan yang ia miliki. Soekeni dan Srimben akhirnya tinggal di wilayah perbekelan Banjar Paketan, tepatnya di rumah Pan Sedana Mertia.
Sejak kawin lari, Srimben pun tak pernah pulang ke rumah gadisnya di perbekelan Bale Agung, meskipun jaraknya tak seberapa jauh.
Rumah yang ditinggali Soekeni dan Srimben sempat roboh karena usianya yang sudah terlampau tua. Namun rumah itu kembali dibangun dalam bentuk yang persis sama, hanya bahan bangunannya yang berbeda. Rumah itu kini dimiliki Komang Suma Artana, yang juga Kepala Lingkungan Banjar Paketan.
Semasa tinggal di rumah tersebut, Nyoman Rai Srimben melahirkan anak pertamanya, yakni Soekarmini. Raden Soekeni Sosrodiharjo, Nyoman Rai Srimben, dan Soekarmini akhirnya diboyong ke Surabaya pada tahun 1900.
Hingga akhirnya ia melahirkan Ir. Soekarno di Jalan Kepandean, dekat Paneleh, Surabaya, pada 6 Juni 1901. Srimben pun tak pernah kembali lagi ke rumah gadisnya hingga mangkat pada Jumat Kliwon, 12 September 1958. (*/eka prasetya/mus)