CURUP, BE - Musim kemarau panjang yang saat ini tengah melanda sudah memberikan dampak buruk bagi petani di Kabupaten Rejang Lebong. Dampak tersebut bukan hanya dirasakan petani sawah melainkan petani kebun khususnya mereka yang bercocok tanam cabai. Akibat kurangnya pasokan air, produksi cabai di sejumlah tempat di kawasan kabupaten Rejang Lebong menurun drastis dari musim tanam sebelumnya. Hal tersebut tentunya berdampak pada penghasilan para petani cabai. \"Biasanya, dalam setengah hektar tanaman cabai jika tumbuh normal mampu menghasilkan cabai sebanyak 5 hingga 6 ton untuk 7 kali petik normal tanaman cabai. Kalau sekarang dalam setengah hektar dapat setengah ton saja lumayan, karena buahnya tidak normal,\" ungkap Sarjito (45) salah satu petani cabai di kawasan Desa Sumber Urip Kecamatan Selupu Rejang. Menurut Sarjito, selain dirinya masih banyak petani lainnya di wilayah Selupu Rejang yang tidak berhasil menanam cabai meskipun ada sebagian yang berhasil meskipun hasilnya jauh dari target yang mereka tetapkan. Menurut Sarjito hal tersebut tak lepas dari musim kemarau yang terjadi, dimana sejak beberapa bulan terakhir hampir tidak ada pasokan air khususnya pasokan air dari air hujan. \"Biasanya musim tanam cabai saat musim hujan tiba, sembari tanaman cabai mendapat pasokan air hingga bisa tumbuh dengan bagus, namun karena hampir tidak adanya hujan sehingga banyak yang gagal,\" jelasnya. Lebih lanjut Sarjito menjelaskan, karena kurang normalnya pertumbuhan batang cabai, bahkan ada yang hampir mati membuat sejumlah petani melakukan panen cepat meskipun belum waktunya. Dimana sebelum cabai berubah warna menjadi merah atau masih hijau petani langsung memanennya. \"Memang banyak yang dipanen meskipun masih berwarnai hijau, kalau ditunggu sampai merah khawatirnya justru diserang penyakit dan tidak bisa panen sama sekali,\" tambah Sarjito. Terkait dengan harga sendiri, menurut Sarjito dengan minimnya pasokan cabai tersebut tentunya akan melambungkan harga cabai itu sendiri dimana saat ini harga cabai berkisar antara Rp 25 ribu hingga Rp 30 ribu per Kg. \"Harga itu ditingkat petani kalau ditingkat pengecer tentunya akan lebih mahal, sudah menjadi hukum ekonomi bila pasokan sedikit maka otomatis harganya akan melonjak,\" tutup Sarjito.(251)
Produski Cabai Menurun Drastis
Senin 28-09-2015,14:00 WIB
Reporter : Rajman Azhar
Editor : Rajman Azhar
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Kamis 09-07-2026,18:05 WIB
Gengsi Akreditasi Berujung Buntung, Madrasah di Mukomuko Terancam Kehilangan Bantuan Pusat
Kamis 09-07-2026,17:46 WIB
Kasus Suap Rekrutmen PHL PDAM Bengkulu Bergulir ke Babak Baru, Polda Tetapkan Empat Tersangka Lagi
Kamis 09-07-2026,18:06 WIB
Bapenda Kota Bengkulu Genjot PAD, Maksimalkan 13 Sektor Pajak dan Retribusi
Kamis 09-07-2026,18:01 WIB
Praperadilan Ditolak, Status Tersangka Eks Direktur Bank Bengkulu Agusalim Sah, Penyidikan Berlanjut
Kamis 09-07-2026,17:55 WIB
360 Calon Siswa Belum Dapat Sekolah, Dikbud Bengkulu Siapkan Distribusi ke 7 Sekolah Negeri dan Program PJJ
Terkini
Jumat 10-07-2026,15:45 WIB
Dinas Perikanan Bengkulu Selatan Kembali Gulirkan Budikdamber, Warga Dibekali Benih, Pakan dan Pendampingan
Jumat 10-07-2026,15:38 WIB
Korupsi Pamsimas Mukomuko: Tersangka Kembalikan Rp518 Juta, Proses Pidana Tetap Lanjut
Jumat 10-07-2026,15:33 WIB
Tinjau Kawasan Mess Pemda, Wali Kota Bengkulu Pastikan Penataan Tanpa Menggusur Pedagang
Jumat 10-07-2026,15:30 WIB
Kapolda Bengkulu dan Kominfotik Perkuat Sinergi Tangkal Hoaks, Soroti Kekerasan Perempuan dan Anak
Jumat 10-07-2026,15:25 WIB