JAKARTA,BE- Perubahan gaya hidup telah mempengaruhi kebugaran remaja masa kini, sehingga diperlukan intervensi pada sistem pendidikan formal untuk mendorong anak sekolah senang berolahraga, kata Pejabat Kementerian Pemuda dan Olahraga, Prof Djoko Pekik Irianto. \"Kebugaran anak-anak usia 10-14 tahun berdasarkan penelitian belum lama ini terbilang rendah yakni 67 persennya diketahui tergolong kurang aktif, bahkan untuk golongan remaja yang memiliki kebugaran bagus (dalam arti standar atlet) tidak sampai satu persen,\" kata Deputi Bidang Peningkatan Prestasi Kementerian Pemuda dan Olahraga, Prof Djoko Pekik Irianto dalam diskusi terbuka \"Ke Mana Visi Pembinaan Olahraga Kita\" di Palembang, Kamis, 3 September 2015. Dalam diskusi yang dihadiri Gubernur Sumsel Alex Noerdin, mantan atlet Richard Sambera dan Rexy Mainaky, dan mantan komandan Program Atlet Andalan Ahmad Sucipto, ia mengatakan, kondisi ini jelas mengkhawatirkan, artinya butuh suatu upaya untuk mengatasinya. Menurut dia, kondisi ini sebagian besar dijumpai di perkotaan dan mulai menjalar ke kawasan pedesaan. (sebanyak 56 persen penduduk tinggal di kota, red). \"Anak-anak sekarang lebih suka menggunakan gadget, sudah jarang ditemui anak-anak yang ke sekolah naik sepeda dan lainnya, ini yang menjadi penyebab utama,\" kata dia. Selain itu, ia menambahkan, sistem pendidikan yang demikian ketat terhadap waktu membuat pelajar tingkat SD dan SMA mengurangi gerak olah tubuh. \"Tuntutan yang tinggi seperti harus lulus Ujian Nasional sehingga memaksa pelajar untuk menambah waktu belajar. Jika dulu, anak-anak selesai sekolah jam 12.00 WIB kini sudah jam 15.00 WIB,\" ujar dia. Sehingga tidak mengherankan jika hal ini juga berimbas pada prestasi atlet secara nasional, karena anak-anak didorong ke arah tidak menyukai kegiatan olahraga. \"Bagaimana akan mendapatkan atlet bertalenta di tingkat SD dan SMA kalau di level mereka tidak ada kegiatan olahraga,\" kata dia. Mantan atlet nasional renang Richard Sambera pun membenarkan bahwa perubahan gaya hidup anak-anak telah berimbas pada prestasi olahraga Tanah Air. \"Saya dulu sewaktu sekolah, pulang jam 12.00 WIB kemudian jam 13.00 WIB sudah berada di rumah. Lalu menjadi tidak masalah ketika harus berlatih pukul 15.00 WIB di arena renang. Sementara, saat ini hal itu sangat sulit diterapkan karena anak-anak rata-rata pulang sekolah jam 15.00 WIB,\" ujar dia. Oleh karena itu, Richard menilai dibutuhkan suatu intervensi dari pemerintah di level kebijakan, jika ingin menyelamatkan prestasi olahraga di kancah internasional. \"Sederhana saja, saat ini orang berpikir dua kali jika ingin menjadikannya atlet, karena terlalu berisiko bagi masa depan anaknya,\" kata dia. (**)
Gaya Hidup Pengaruhi Kesehatan Remaja
Senin 07-09-2015,09:00 WIB
Reporter : Rajman Azhar
Editor : Rajman Azhar
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Selasa 27-10-2026,10:02 WIB
Mengenal AQILA, Panduan Orang Tua Memilih Air Minum yang Tepat untuk Anak
Selasa 27-10-2026,11:03 WIB
Nelayan Kecil Masih Terjebak Kemiskinan, KNTI Soroti Program Kampung Nelayan Merah Putih
Selasa 27-10-2026,14:08 WIB
DWP Bengkulu Dikukuhkan, Herwan Antoni Dorong Program Nyata untuk Perempuan dan Keluarga
Selasa 27-10-2026,09:57 WIB
Waspada Perlengketan Usus, Bisa Picu Nyeri Perut hingga Gangguan Saluran Kemih
Selasa 27-10-2026,10:54 WIB
10 Prodi Vokasi Paling Diminati di SNBP 2026, Cek Pendaftar dan Daya Tampungnya!
Terkini
Selasa 27-10-2026,14:14 WIB
Pemkot Bengkulu Kebut Penataan Eks Mess Pemprov, Tahap Pertama Ditargetkan Selesai Akhir 2026
Selasa 27-10-2026,14:08 WIB
DWP Bengkulu Dikukuhkan, Herwan Antoni Dorong Program Nyata untuk Perempuan dan Keluarga
Selasa 27-10-2026,14:03 WIB
Warga Kaur Diduga Edarkan 2 Kg Ganja di Bengkulu, Polisi Temukan Sabu di Kamar Kos
Selasa 27-10-2026,13:56 WIB
Pelindo Ingatkan Warga, Jalan Line 1 Pulau Baai Bukan Tempat Buang Sampah
Selasa 27-10-2026,13:53 WIB