BENTENG, BE-Masyarakat Kecamatan Pondok Kelapa yang memiliki lahan di pinggiran laut kawasan objek wisata Pantai Sungai Suci mengharapkan diperbanyak pembangunan pemecah gelombong di sepanjang bibir pantai. Sebab, gerusan air laut dikasawan tersebut terlah mengikis lahan masyarakat. Seperti diungkapkan Wardi (50), warga pengelola lahan perkebunan kelapa lahanya sudah mulai tergerus oleh air laut, jika dibiarkan terus menerus dikhawatirkan lahan perkebunan semakin menyusut. \"Ya jika memang bisa dibangun, kita harapkan adanya pembangunan pemecah gelombang, sebab lahan perkebunan kita mesti dilindungi juga,\" ungkap Wardi. Wardi mengatakan, sejauh ini pemecah gelombong dibangun di kawasan objek wisata Sungai Suci, sedangkan untuk dibeberapa wilayah perkebunan baik sebelum maupun sesudah kawasan objek wisata belum dibangun. Sehingga, warga mengharapkan Pemerintah Daerah memperbanyak pemasangan pemecah ombak di sepanjang pantai kawasan Pondok Kelapa. Sebab, sabuk hijau yang masuk dalam program mitigasi tsunami dari pemerintah, dengan menanam pohon-pohon di pesisir Pantai Pondok Kelapa (PK), tidak menjamin keamanan zona merah tsunami. Karena tumbuhan di sekitar sabuk hijau, banyak yang mati tertimbun pasir. Selain itu, ada yang sengaja ditebang oknum warga tak bertanggung jawab. Kepala Desa Pondok Kelapa Mardiana mengatakan, daerah Pondok Kelapa aman dari bencana tsunami bila dibangun pelapis beton dan pemecah ombak, yang harus ditanamkan pantai pesisir. Bila hanya ditanami tumbuhan tidak bisa dikatakan aman. Sebab, tumbuhan ini tidak optimal ditanam. Apalagi ketika sudah besar, pohon banyak dipotong warga sekitar. \"Bahannya itu dari batu jadi kuat dan tidak mudah hancur,\" ungkap Kades. Disebutkan Kades, Mitigasi yang optimal meliputi segala tindakan yang mencegah bahaya, mengurangi kemungkinan terjadinya bahaya, dan mengurangi daya rusak suatu kawasan yang tidak dapat dihindarkan. \"Pemasangan pemecah gelombang harus lebih banyak lagi, inilah salah satu caranya untuk mengurasi risiko bencana dikawasan pesisir pantai,\" terangya. Mitigasi bahaya tsunami dan bencana alam lainnya diperlukan dalam menilai kondisi alam yang terancam, merancang dan menerapkan teknik peringatan bahaya, serta mempersiapkan daerah yang terancam untuk kurangi dampak negatif bahaya. (320)
Sungai Suci Abrasi
Senin 06-07-2015,14:40 WIB
Reporter : Rajman Azhar
Editor : Rajman Azhar
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Kamis 11-06-2026,10:02 WIB
Polres Bengkulu Selatan Masih Buru Pelaku Pembuangan Bayi di Pantai Pasar Bawah
Kamis 11-06-2026,12:18 WIB
Perkuat Komitmen Antikorupsi Saat SPMB, Pemkot Bengkulu Minta Kepsek Jauhi Pungli dan Gratifikasi
Kamis 11-06-2026,11:46 WIB
Danau Dendam Tak Sudah Disulap Jadi Ikon Wisata Baru Bengkulu, Pemprov Mulai Penataan Kawasan
Kamis 11-06-2026,10:07 WIB
Pelajar SMP Asal Pondok Batu Hilang Terseret Ombak di Pantai Badri Mukomuko
Kamis 11-06-2026,15:51 WIB
Gubernur Helmi Hadiri Pemakaman Orangtua Bupati Seluma dan Senator Destita
Terkini
Kamis 11-06-2026,21:05 WIB
Implementasi Kerja Sama, Ketua Prodi Jurnalistik FISIP UNIB Jadi Narasumber Seminar Internasional
Kamis 11-06-2026,16:10 WIB
Astra Motor Bengkulu Ajak Siswa Sekolah Binaan Berkarya Lewat Konten Sustainable Living Saat Libur Sekolah
Kamis 11-06-2026,15:51 WIB
Gubernur Helmi Hadiri Pemakaman Orangtua Bupati Seluma dan Senator Destita
Kamis 11-06-2026,15:45 WIB
Orangtua Senator Destita dan Bupati Seluma Tutup Usia, Dimakamkan di Kampung Halaman Desa Kembang Mumpo
Kamis 11-06-2026,15:15 WIB