JAKARTA - Pemenuhan delapan standar nasional pendidikan (SNP) masih rendah. Hasil akreditasi Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN S/M) menyebutkan, nilai terendah masih untuk urusan standar guru, tenaga kependidikan, sarana prasarana sekolah. Kepala BAN S/M Abdul Mukti menjelaskan, selama 2014 telah dilakukan 27.656 akreditasi sekolah dan madrasah. \"Angka itu lebih tinggi dari target sasaran sebesar 19.500,\" katanya di Jakarta kemarin. Mereka berhasil menambah sasaran akreditasi karena melakukan penghematan operasional tim asesor. Dari total sekolah yang diakreditasi, paling banyak terdapat di Provinsi Jawa Timur dengan jumlah 2.965 unit sekolah dan madrasah. Kemudian disusul Provinsi Jawa Barat (2.550 unit) dan Sulawesi Selatan (1.766 unit). Dia mengatakan target sasaran akreditasi sekolah tahun depan adalah sekolah-sekolah di kawasan terdepan, terluar, dan terpencil. Evaluasi dari akreditasi 2014 menunjukkan, kualitas pemenuhan standar guru dan tenaga kependidikan di sekolah dengan akreditasi C dan TT (tidak terakreditasi) masih lemah. \"Contoh paling memprihatinkan ada di SD,\" ujar pria yang juga dosen Unviersitas Islam Negeri (UIN) Jakarta itu. Mukti menuturkan banyak SD yang tidak memenuhi standar layanan minimal karena tidak memiliki tenaga tata usaha (TU). Padahal aturan dari pemerintah, SD yang memiliki minimal enam rombongan belajar (rombel), wajib memiliki satu orang tenaga TU. \"Di lapangan yang banyak terjadi, kepala sekolah merangkap sebagai TU di SD,\" ungkapnya. Kondisi pemenuhan standar guru, menurut Mukti, juga perlu diperbaiki. Dia mencontohkan salah satu indikator penilaian akreditasi adalah, jumlah guru yang sesuai mapel dan ijazahnya. Contohnya untuk guru mata pelajaran agama dan pendidikan jasmani, harus diampu oleh guru-guru berijazah yang sama. Meskipun sudah jelas ada kekurangan di sektor guru dan tenaga kependidikan, pemerintah pusat tidak bisa berbuat banyak. Sebab kewenangan perekrutan guru dan tenaga kependidikan, ada di tangan pemerintah kabupaten atau kota. Mukti menjelaskan selama ini jarang sekali ada rektrutmen CPNS untuk posisi tenaga TU di SD. Staf BAN S/M Tita Lestari menuturkan, sejumlah daerah memiliki strategi untuk meningkatkan akreditasi di wilayah masing-masing. Ia mencontohkan di Kota Surabaya, sekolah yang terakreditasi C dilarang menyelenggaraan ujian nasional (unas). \"Padahal aturannya sekolah yang dilarang menyelenggarakan unas yang akreditasinya TT,\" jelasnya. Dengan strategi tadi, sekolah-sekolah di kota pahlawan berlomba-lomba supaya tidak mendapat akreditasi C dan TT. Sebab setiap sekolah ingin bisa menyelenggarakan unas sendiri. Sehingga nama sekolah akan tercamtum di ijazah siswanya. (wan)
Lemah di Guru dan Tenaga Kependidikan
Rabu 17-12-2014,08:50 WIB
Reporter : Rajman Azhar
Editor : Rajman Azhar
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Rabu 20-05-2026,09:00 WIB
Tak Perlu Panik Saat Motor Bermasalah, Honda Care Siap Datang Membantu
Rabu 20-05-2026,07:00 WIB
AHASS Astra Motor Bengkulu Hadirkan Layanan Booking Service: Lebih Praktis dan Nyaman
Rabu 20-05-2026,08:00 WIB
New Honda Stylo 160 Spesial Burgundy, Siap Jadi Pusat Perhatian
Rabu 20-05-2026,13:29 WIB
Cegah Kecelakaan Akibat Pengendara Ugal-ugalan, Astra Motor Bengkulu Edukasi Manajemen Stres di Jalan
Rabu 20-05-2026,13:09 WIB
Berawal dari Cekcok Mulut, Mahasiswa Asal Bengkulu Utara Babak Belur Dikeroyok di Bar Padang Jati
Terkini
Rabu 20-05-2026,17:36 WIB
Gasak Emas 30 Gram Milik Dokter di Timur Indah, Residivis Asal Lampung Diringkus Polsek Gading Cempaka
Rabu 20-05-2026,17:19 WIB
LKPJ Bupati Tahun 2025, DPRD Kabupaten Kaur Terbitkan 10 Rekomendasi Strategis
Rabu 20-05-2026,17:16 WIB
Matangkan Persiapan HUT ke-23 dan Festival Gurita, Pemkab Kaur Boyong Jebolan MasterChef Indonesia
Rabu 20-05-2026,17:08 WIB
Bentengi Nilai Lokal dari Arus Modernisasi, 35 Sanggar Binaan Disdikbud Kaur Unjuk Gigi
Rabu 20-05-2026,16:59 WIB