BENGKULU, BE - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) I Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Bengkulu menilai Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) merugikan kaum perempuan. DPD I Muslimah HTI Bengkulu mengkritisi perhatian pemerintah agar perempuan lebih berdaya guna di sektor usaha sebagai persiapan menghadapi MEA 2015. \"Ini artinya sama saja perempuan-perempuan didorong untuk terjun ke dunia kerja atas nama pemberdayaan ekonomi perempuan. Padahal di era pasar bebas ini, persaingan semakin ketat. Para laki-laki yang menjadi tulang punggung keluarga akan semakin kesulitan mencari pekerjaan,\" kata Ketua DPD I Muslimah HTI Bengkulu, Indah Kartika Sari SP, disela-sela acara dialog tokoh Forum Mutiara Peradaban (FORMUDA) di salah satu hotel di Kota Bengkulu, kemarin (30/11). Menurutnya, MEA 2015 bertendensi menyebabkan kaum perempuan bekerja membantu ekonomi keluarga. Namun yang menjadi ironis, masuknya perempuan dalam proses produksi tidak membuat kaum perempuan menjadi sejahtera, sebaliknya, kaum hawa ini justru mengalami eksploitasi. \"Ketika mereka bekerja secara massif diluar rumah, mereka malah dapat beban ganda yang mendilemakan. Stress bisa datang sewaktu-waktu dan seringkali menyebabkan konflik keluarga. Itulah sebabnya kepada perceraian semakin meningkat,\" ucapnya. Kondisi ini, lanjut Indah, diperparah dengan hilangnya fungsi ibu sebagai pendidik generasi. Dunia kerja yang ketat membuat para ibu menghilangkan perasaan bersalah meninggalkan kewajiban pengasuhan dan pendidikan anak melalui tempat penitipan anak. \"Pada akhirnya peran ibu sebagai pendidik di era pasar bebas ini akan hilang tergantikan oleh konsep pendidikan dari lingkungan bercorak liberalistik atas nama era globalisasi. Budaya luar yang masuk dengan deras sebagai efek dari pasar bebas akan membuat persoalan degradasi moral di kalangan remaja akan semakin meningkat,\" paparnya. Lebih lanjut dikatakan, pasar bebas pada faktanya merupakan alat bagi kapitalis barat untuk mencengkram dan mengontrol perekonomian negeri-negeri dunia ketiga. Akibat berbahaya dari pasar bebas adalah dampak sosial yang bermuara tidak hanya pada kehancuran keluarga namun juga kehancuran generasi. \"Islam mengharamkan konsep pasar bebas yang diusung negara-negara kapitalis barat. Disamping secara faktual merugikan, sejatinya kebijakan tersebut merupakan implementasi dari konsep kebebasan kepemilikan dari ideologi kapitalis yakni bebas untuk memiliki dan menguasai berbagai jenis komoditi,\" tuturnya. Dialog tokoh ini melibatkan Luslenika MSi sebagai akademsi IAIN Bengkulu, serta drg Wardah Samanhudi dari tokoh intelektual MHTI Bengkulu. Dialog ini sendiri merupakan prakondisi Kongres Ibu Nusantara ke-2 yang akan diselenggarakan pada 21 Desember 2014 dengan tema \'Derita Ibu dan Anak karena Matinya Fungsi Negara dalam Rezim Neolib\'. Acara ini mayoritas diikuti oleh mahasiswi dari seluruh universitas di Kota Bengkulu. (009)
MEA Rugikan Perempuan
Senin 01-12-2014,12:08 WIB
Reporter : Rajman Azhar
Editor : Rajman Azhar
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Kamis 26-03-2026,19:25 WIB
189 ASN Seluma Dirotasi, Bupati Pastikan Gerbong Kedua Segera Bergulir
Kamis 26-03-2026,12:59 WIB
Ditinggal Mudik, Rumah di Karang Anyar 1 Hangus Terbakar
Kamis 26-03-2026,13:43 WIB
144 Desa di Mukomuko Ajukan Pencairan Dana Desa 2026, Total Anggaran Rp169 Miliar
Kamis 26-03-2026,13:04 WIB
Kasus Penusukan Kedurang Ilir, Polisi Dalami Konflik Keluarga
Kamis 26-03-2026,12:56 WIB
Pangkas Belanja Pegawai Jadi 30 Persen, TPP ASN Mukomuko dan Nasib 1.875 PPPK Terancam
Terkini
Kamis 26-03-2026,19:36 WIB
Kunjungan Meningkat 30 Persen, Pusat Perbelanjaan di Bengkulu Dipadati Pengunjung Selama Lebaran
Kamis 26-03-2026,19:34 WIB
Dua Rumah di Lebong Ludes Terbakar, Diduga Akibat Korsleting Listrik
Kamis 26-03-2026,19:25 WIB
189 ASN Seluma Dirotasi, Bupati Pastikan Gerbong Kedua Segera Bergulir
Kamis 26-03-2026,15:41 WIB
Kajari Mukomuko Berganti, Idham Kholid Resmi Dilantik
Kamis 26-03-2026,15:37 WIB