JAKARTA - Sorotan publik terhadap harga BBM menjelang pemerintahan yang baru memperoleh berbagai reaksi. Beberapa kalangan menilai masih perlunya subsidi BBM di Indonesia. Bukan hanya untuk masyarakat, namun juga menjaga kinerja perusahaan migas nasional PT Pertamina. Pengamat ekonomi energi Akhmad Syahroza mengatakan, kebijakan subsidi BBM memang menjadi beban pemerintah saat ini. Alokasi yang untuk BBM transportasi dianggarakan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) sudah hampir mencapai Rp 300 triliun. Namun, kebijakan tersebut diakui tak bisa dihapus begitu saja. Pasalnya, hal tersebut bakal membuat pasar bebas di sektor hilir BBM Indonesia. \"Ya tidak bisa dong. Kalau ternyata harga BBM yang dijual Pertamina sama dengan perusahaan lainnya, bisa mati BUMN Indonesia. Bayangkan saja, kalau harga BBM Pertamina dan Shell sama, kira-kira masyarakat bakal beli yang mana. Kemungkinan besar pasti masuk ke Shell,\" jelasnya kepada Jawa Pos kemarin (17/9). Dia menilai, Pertamina masih belum siap untuk bersaing secara bebas di Indonesia. Baik dari sisi pelayanan maupun modal. Terlebih lagi, sebagian besar masyarakat Indonesia masih ada brand minded yang lebih memfavoritkan merek luar negeri. \"Kan mereka (perusahaan asing) jaringannya lebih kuat. Bisa saja membeli minyak mentah yang lebih murah. Dengan begitu, harganya mengalahkan Pertamina (kalau subsidi dihapus, Red),\" ungkapnya. Karena itu, dia mengharapkan pemerintah baru tetap meneruskan kebijakan subsidi BBM dengan mempertimbangkan kinerja Pertamina. Meskipun, dia tetap mendorong pengurangan subsidi BBM untuk lebih memperluas ruang gerak fiskal. \"Jaraknya bisa Rp 500 - 1.000 per liter lah. Tapi jangan dihapus. Kalau dihapus berarti pro asing,\" ungkapnya. Sementara itu, Kepala Badan Pengatur Kegiatan Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Andy Noorsaman Someng mengaku kenaikan harga memang harus dilakukan pemerintah baru. Pasalnya, pemerintah perlu membuat masyarakat lebih berhemat konsumsi masyarakat. Hal tersebut sebagai dampak penetapan kuota oleh badan anggaran (banggar) DPR yang sama seperti tahun ini yakni 46 juta kl. \"Kami takut masalah penyalahgunaan manakala disparitas terlalu tinggi. Sebenarnya, kalau tidak ada penyelewengan, mungkin saja kuota BBM ditekan sampai 46 juta. Tapi selama selisihnya masih tinggi resikonya pasti ada,\" sebutnya. Terkait kenaikan yang ideal, dia menilai kenaikan harga BBM subsidi yang tepat adalah Rp 3 ribu per liter. Sehingga, harga BBM bersubsidi jenis premium bakal mencapai Rp 9.500 per liter dan solar bakal menjadi 8.500 per liter. \"Kalau naik Rp 3 ribu per liter masuk akal,\" tuturnya. (bil)
Pencabutan Subsidi Bisa Bikin Pertamina Mati
Kamis 18-09-2014,10:16 WIB
Reporter : Rajman Azhar
Editor : Rajman Azhar
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Kamis 30-04-2026,10:33 WIB
Sekda Bengkulu Selatan Ingatkan Camat Awasi APBDes 2026
Kamis 30-04-2026,10:27 WIB
Polres Kaur Bubarkan Judi Sabung Ayam di Tanjung Kemuning
Kamis 30-04-2026,08:35 WIB
Jamaah Haji Bengkulu Utara Mulai Jalani Ibadah di Madinah, Seluruh Peserta Kloter 4 Dilaporkan Sehat
Kamis 30-04-2026,10:24 WIB
Kado Istimewa untuk Warga Apur, Presiden Berikan Sapi Kurban Seberat 1 Ton
Kamis 30-04-2026,10:30 WIB
Disdikbud Bengkulu Selatan Libatkan Desa Tekan Anak Putus Sekolah
Terkini
Kamis 30-04-2026,17:32 WIB
Kejati Bengkulu Siap Tuntaskan Perkara Tepat Waktu
Kamis 30-04-2026,16:29 WIB
Ahli Konstruksi Beberkan Dugaan Penyimpangan Proyek DAK Pertanian Kaur di Persidangan
Kamis 30-04-2026,16:25 WIB
Ombudsman Turun Tangan, Pelayanan Haji Bengkulu Dinilai Layak, Soroti Kesiapan Tenaga Medis
Kamis 30-04-2026,16:22 WIB
Di Hadapan Hakim, Beby Hussy Curahkan Pledoi, Perjalanan Hidup, Usaha, dan Cinta untuk Bengkulu
Kamis 30-04-2026,16:19 WIB