NUSA DUA, BE - Tahap stabilisasi ekonomi melalui pengetatan moneter diprediksi membutuhkan waktu hingga dua tahun. Bank Indonesia (BI) menyatakan, kebijakan pengetatan dari sisi permintaan itu bakal dikurangi jika ekspektasi inflasi kembali normal serta nilai tukar rupiah tidak lagi mengalami volatilitas yang tinggi. \"Stabilisasi ini terus dilakukan dan tidak ada hentinya. Stabilisasi tidak berarti menginjak pedal rem, tapi harus melihat pertumbuhan yang berkesinambungan. Mungkin satu sampai dua tahun ini moneter lebih sering bermain dari sisi demand policy,\" ungkap Direktur Eksekutif Departemen Riset Ekonomi dan Kebijakan Moneter BI, Dody Budi Waluyo setelah menghadiri Seminar Internasional Avoiding Middle Trap Country di Bali. Namun, untuk selanjutnya, menurut dia, demand policy tersebut tidak akan membantu kebijakan dari sisi suplai untuk jangka panjang. Karena itu, pihaknya memiliki beberapa skenario dengan asumsi pertumbuhan ekonomi yang bisa mencapai 6,5 persen pada 2015. Pada tahun itu pertumbuhan ekonomi tidak diikuti tekanan inflasi, gejolak nilai tukar, dan tidak ada tekanan defisit transaksi berjalan. \"Itu bisa dilakukan dengan menyesuaikan output ekonomi. Karena itu, perlu ada kebijakan dari sisi suplai. Dalam jangka pendek, jika dapat menyelesaikan masalah infrastruktur, itu akan meningkatkan output,\" ujarnya. Di sisi lain, Asian Development Bank (ADB) memproyeksi pertumbuhan ekonomi 45 negara berkembang anggota ADB pada 2013 yang bisa mencapai 6,0 persen. Angka tersebut membaik pada 2014 menjadi 6,2 persen. Hal itu dipicu perbaikan akselerasi negara-negara maju seperti Jepang dan AS yang bisa mengerek kinerja ekonomi Tiongkok. \"Meski ekonomi global dilingkupi ketidakpastian, ekonomi di Asia tetap tangguh. Wilayah ini memiliki kinerja yang baik pada 2013 dan sekarang siap untuk mendapat keuntungan dari tanda-tanda momentum pertumbuhan di negara maju,\" papar Kepala Ekonom ADB Changyong Rhee kemarin. Negara maju seperti AS, Eropa, serta Jepang berada di jalur perkiraan pertumbuhan sebesar 0,9 persen pada 2013. ADB juga memperkirakan pertumbuhan 1,9\"persen di negara-negara tersebut pada 2014 dan naik 0,1 persen dari forecast yang dilaksanakan pada Oktober 2013. Pertumbuhan Asia Tenggara diprediksi moderat. Kawasan tersebut diharapkan dapat mencatat pertumbuhan 4,8 persen pada 2013 dan 5,2 persen pada 2014. Tetapi, perkiraan tersebut merupakan penurunan 0,1 persen. \"Moderasi ini berasal dari dampak ketegangan di Thailand pada sektor konsumsi dan pariwisata. Serta, dampak buruk dari Topan Haiyan Filipina. Diperkirakan, pertumbuhan dua negara tersebut landai sampai 2014,\" ucapnya. (jpnn)
Pengetatan Moneter Sampai 2015
Senin 16-12-2013,10:20 WIB
Reporter : Rajman Azhar
Editor : Rajman Azhar
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Jumat 27-03-2026,16:06 WIB
Polemik Parkir Balai Buntar, Pemprov Kukuh Jalankan Meski Tuai Kritik
Jumat 27-03-2026,17:53 WIB
BKSDA Ungkap Status Baru, Aktivitas Perambahan Ramai di Eks TWA Pantai Panjang
Jumat 27-03-2026,15:58 WIB
Polres Bengkulu Selatan Panen Raya Jagung, Dukung Swasembada Pangan 2026
Jumat 27-03-2026,16:23 WIB
Residivis 17 Tahun Bacok Teman Usai Cekcok, Ditangkap di Persembunyian
Jumat 27-03-2026,16:09 WIB
ASN Pemkot Bengkulu Wajib Ngantor 30 Maret, Pastikan Layanan Publik Kembali Normal
Terkini
Sabtu 28-03-2026,15:08 WIB
Pemprov Bengkulu Klarifikasi Isu Biro Umum, Pastikan Tak Ada Pelanggaran
Sabtu 28-03-2026,14:59 WIB
Puluhan Karyawan PT AIP di Seluma Dirumahkan, Perusahaan Hentikan Operasi 31 Maret 2026
Sabtu 28-03-2026,14:47 WIB
Siap-siap, Dinas Ketahanan Pangan Mukomuko Bakal "Gerebek" Mendadak 9 Satuan Pelayanan Gizi Gratis
Sabtu 28-03-2026,14:45 WIB
Kabar Gembira, Petani Mukomuko Bakal Diguyur Bantuan Replanting Rp60 Juta Per Hektare
Jumat 27-03-2026,17:55 WIB