JAKARTA - Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane mengatakan, selain bersikap represif, polisi diduga menggunakan preman bayaran untuk membubarkan aksi demonstrasi mahasiswa yang menolak kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah kota, di antaranya Makasar, Palopo, dan Samarinda.
Dalam demonstrasi di Makasar, Senin (17/6) misalnya, para preman muncul dari belakang barikade polisi dan menyerang mahasiswa. Polisi bukannya mengusir para preman, tapi malah membiarkan. Mereka mundur dan hanya menjadi penonton.
\"IPW sangat menyesalkan cara-cara yang dilakukan polisi dalam menangani aksi demo ini. Penggunaan preman dalam mengatasi aksi demo mahasiswa bisa memicu konflik horizontal di masyarakat kian meluas,\" kata Neta di Jakarta, Minggu (23/6).
Para preman tersebut lanjut dia, juga memprovokasi warga sekitar agar ikut melempari mahasiswa. Karena itu, IPW mendesak Kapolri segera memerintahkan para kapolda dan kapolres untuk menghentikan penggunaan preman dalam mengatasi demo mahasiswa.
Neta menerangkan, demo menolak kenaikan harga BBM selama seminggu terakhir terjadi di 62 kota. Dalam aksi itu ada 229 mahasiswa ditangkap dan ada yang sudah dibebaskan, kecuali di Medan masih ditahan 14 mahasiswa. \"IPW mendesak agar mahasiswa itu dibebaskan,\" ujarnya.
Selain itu menurut Neta, ada 118 mahasiswa luka dalam aksi demonstrasi menolak kenaikan BBM. Sebagian besar akibat dipukuli dan ditembaki polisi dengan peluru karet. Bahkan 18 diantaranya masih dirawat di RS. Sementara itu, jumlah polisi yang luka ada 9 orang.
Dalam aksi demonstrasi, mahasiswa juga membakar kantor polisi. \"Ada 4 kantor polisi dibakar mahasiswa, 2 di Jakarta, 1 di Kendari, dan 1 di Medan,\" ucap Neta.
Wartawan pun kata Neta, ikut menjadi korban keberingasan polisi. Reporter Trans Tv di Jambi, Andi Nugroho mengalami luka tembak di pelipis, wartawan Alikindi di Ternate mengalami luka tembak di kaki, dan Ismed wartawan Kendari Express mengalami luka pukulan di pelipis.
Menurut Neta, kota yang paling rawan dan polisinya paling ceroboh dalam mengatasi aksi demo adalah Medan, Jambi, dan Ternate. Di kota Medan kata dia, demonstran dibiarkan membakar KFC dan polisi tidak mengantisipasinya. Sedangkan kota besar yang paling aman dan damai aksi demo mahasiswanya adalah Semarang, Surabaya, dan Bandung.
\"Polri diharapkan melakukan deteksi dan antisipasi dini secara maksimal. Sebab beberapa hari ke depan aksi demo mahasiswa menolak kenaikan harga BBM masih akan marak,\" pungkasnya. (gil/jpnn)
Polisi Diduga Bayar Preman Untuk Bubarkan Demonstran
Minggu 23-06-2013,18:10 WIB
Reporter : Rajman Azhar
Editor : Rajman Azhar
Tags :
Kategori :
Terkait
Terpopuler
Kamis 12-03-2026,14:23 WIB
Bupati Mukomuko Lantik 80 Pejabat ASN, Berikut Daftar Lengkap Eselon III, IV dan Fungsional
Kamis 12-03-2026,12:53 WIB
Dugaan Korupsi DD Bandar Agung Terus Didalami, Penyidik Turun Cek Pekerjaan Desa
Kamis 12-03-2026,12:41 WIB
Antisipasi Penimbunan Selama Ramadan, Unit Tipidter Polres BS Sidak Pasar Ampera
Kamis 12-03-2026,13:44 WIB
Kesaksian di Sidang Tipikor, Bebby Hussy Disebut Dermawan, 20 Tahun Bantu Anak Disabilitas
Kamis 12-03-2026,16:58 WIB
Bantu Masyarakat, PT TLB Salurkan Ratusan Paket Sembako di Babatan, Air Kemuning dan Padang Ulak Tanjung
Terkini
Kamis 12-03-2026,16:58 WIB
Bantu Masyarakat, PT TLB Salurkan Ratusan Paket Sembako di Babatan, Air Kemuning dan Padang Ulak Tanjung
Kamis 12-03-2026,15:58 WIB
Tak Ada Tanggal Merah, Pj Sekda Bengkulu Tegaskan Etos Kerja 25 Jam bagi Pejabat Pemkot
Kamis 12-03-2026,15:51 WIB
Program Sedekah Nasi Bungkus, Pemkot Bengkulu Tebar Ribuan Nasi Bungkus Selama Ramadan
Kamis 12-03-2026,15:44 WIB
ASN Pemkot Bengkulu Wajib Lunas PKB dan PBB Jika Ingin Cairkan Gaji Ke-13
Kamis 12-03-2026,15:26 WIB