Mukomuko Punya Peta Indikatif Konservasi dan Stok Karbon, Ini yang Dibidik Pemkab

Jumat 30-10-2026,15:59 WIB
Reporter : Endi
Editor : Rajman Azhar

BENGKULUEKSPRESS.COM – Kabupaten Mukomuko mulai menyiapkan modal untuk menangkap peluang program pembangunan hijau dari tingkat nasional hingga internasional. Salah satunya melalui peta indikatif kajian Nilai Konservasi Tinggi dan stok karbon tinggi yang kini telah dimiliki daerah.

Peta tersebut tidak sekadar disiapkan sebagai dokumen kajian. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Mukomuko berharap data yang tersedia nantinya dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk menawarkan potensi daerah kepada pemerintah pusat maupun mitra pembangunan, termasuk lembaga donor yang memiliki program pembangunan rendah karbon.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bapperida) Kabupaten Mukomuko, Singgih Pramono, MH, mengatakan kesiapan data menjadi penting agar daerah tidak baru bergerak ketika peluang program datang.

“Kita ingin Mukomuko sudah siap. Jadi ketika ada program pembangunan hijau, baik dari tingkat nasional maupun lembaga donor internasional, kita sudah punya data yang bisa menjadi salah satu pijakan. Tidak lagi memulai semuanya dari awal,” kata Singgih.

Peta indikatif kajian Nilai Konservasi Tinggi dan stok karbon tinggi tersebut diinisiasi Bapperida Kabupaten Mukomuko bekerja sama dengan PT SIPEF dan PT Akronesia Teknologi Digital.

BACA JUGA:Peningkatan Jalan Air Hitam–Teluk Bakung Masuk Program IJD, Pekerjaan Awal Ditandai Titik Nol

BACA JUGA:Dua PKS di Mukomuko Beli TBS Rp3.010 per Kilogram, Sembilan Lainnya di Bawah Rp3.000

Menurut Singgih, keberadaan data tersebut menjadi bagian dari langkah daerah untuk mengenali sekaligus memetakan potensi yang dapat dikembangkan dalam agenda pembangunan rendah karbon.

Pemkab Mukomuko selanjutnya ingin mendorong agar potensi tersebut dapat membuka akses terhadap berbagai program dan sumber pendanaan pembangunan hijau.

Peluangnya tidak hanya berasal dari program pemerintah di tingkat nasional. Mukomuko juga ingin membuka ruang kerja sama dengan mitra pembangunan maupun lembaga donor internasional yang memiliki perhatian terhadap konservasi dan pembangunan rendah karbon.

“Yang kita kejar tentu manfaatnya untuk daerah. Kalau potensi dan datanya sudah kita punya, berikutnya bagaimana itu bisa membuka peluang program, kerja sama maupun pendanaan yang bisa masuk ke Mukomuko,” ujarnya.

Selain pendanaan pembangunan hijau, potensi karbon daerah juga diharapkan dapat membuka peluang bagi Mukomuko untuk menjajaki skema pembagian manfaat atau benefit sharing karbon sesuai mekanisme dan regulasi yang berlaku.

Singgih menegaskan peluang tersebut masih membutuhkan proses. Karena itu, kesiapan data dan kajian menjadi salah satu fondasi yang perlu dibangun sejak sekarang.

“Potensinya ada, tetapi tentu tidak serta-merta langsung menghasilkan manfaat. Kita harus siapkan dasarnya, datanya harus kuat dan program yang ditawarkan juga harus jelas. Dari situlah nanti peluang kerja sama bisa kita buka,” jelasnya. 

Tak hanya membidik peluang dari luar, Bapperida Mukomuko juga mendorong keterlibatan perusahaan yang beroperasi di daerah melalui program Corporate Social Responsibility (CSR).

Kategori :