Banner HONDA

Kenapa Rasa Air Mineral Berbeda? Riset Ungkap Peran Kandungan Mineral

Kenapa Rasa Air Mineral Berbeda? Riset Ungkap Peran Kandungan Mineral

Principal Researcher, dr. Dien Kurtanty, menjelaskan penelitian tersebut menggunakan analisis laboratorium, pengujian sensorik temporal, dan uji penerimaan konsumen untuk mengetahui bagaimana perbedaan komposisi mineral berkontribusi terhadap karakter ras-istimewa-

BENGKULUEKSPRESS.COM – Rasa air mineral yang dikonsumsi sehari-hari ternyata tidak hanya berkaitan dengan preferensi masing-masing orang. 

Komposisi dan keseimbangan mineral di dalam air juga dapat memengaruhi persepsi rasa, kesegaran, hingga sensasi yang tertinggal setelah diminum.

Temuan tersebut terungkap dalam penelitian berjudul Linking Ionic Composition to Sensory Attributes in Mineral Water: A Temporal Sensory and Consumer Perception Study yang mengkaji hubungan antara komposisi mineral, persepsi sensorik, dan preferensi konsumen.

Principal Researcher, dr. Dien Kurtanty, menjelaskan penelitian tersebut menggunakan analisis laboratorium, pengujian sensorik temporal, dan uji penerimaan konsumen untuk mengetahui bagaimana perbedaan komposisi mineral berkontribusi terhadap karakter rasa air mineral.

BACA JUGA:Dari Gangguan Lambung hingga Kanker Usus, Kenali Gejala dan Penanganannya

BACA JUGA:Ingin Lepas dari Rokok? Ini Berbagai Cara Berhenti dan Risiko yang Mengintai

“Perbedaan rasa pada air mineral selama ini sering kali dipandang sebagai preferensi subjektif. Penelitian ini memberikan pendekatan ilmiah untuk melihat bagaimana perbedaan komposisi mineral dapat berkontribusi terhadap persepsi rasa dan penerimaan konsumen,” ujar dr. Dien kepada media di Jakarta baru-baru ini.

Dalam penelitian tersebut, terdapat dua metode yang digunakan untuk mengevaluasi persepsi konsumen.

Pertama, uji hedonik terhadap 100 responden untuk menilai rasa, aftertaste atau rasa yang tertinggal setelah minum, kesegaran, dan penerimaan secara keseluruhan.

Kedua, metode Temporal Check-All-That-Apply (TCATA) yang melibatkan 50 panelis semi-terlatih. Metode ini digunakan untuk mengamati perubahan atribut sensorik selama 40 detik proses konsumsi.

“Penelitian ini menggunakan dua pendekatan untuk mendapatkan gambaran yang lebih menyeluruh mengenai persepsi konsumen terhadap air mineral. Uji hedonik dilakukan untuk mengukur tingkat kesukaan responden terhadap rasa, aftertaste, kesegaran, dan penerimaan secara keseluruhan. Sementara itu, metode TCATA digunakan untuk memetakan atribut sensorik yang dirasakan panelis selama 40 detik proses konsumsi,” papar dr. Dien.

Hasil analisis menunjukkan bahwa ketiga sampel air mineral yang diuji memiliki karakteristik berbeda.

Sampel A memiliki kandungan bikarbonat sebesar 267 mg/L dan natrium 46,98 mg/L.

Sementara itu, Sampel B mencatat total dissolved solids (TDS) tertinggi, yakni 260 mg/L. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan Sampel A sebesar 198 mg/L dan Sampel C sebesar 6 mg/L.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: