BSSN Tegaskan Keamanan AI Tak Cukup, SDM Juga Harus Diperkuat
Assoc. Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS, akademisi Program Vokasi Universitas Indonesia, yang menjadi salah satu pembicara dalam rangkaian Global Digital Forum II 2026 di Moskow-disway.id-
BENGKULUEKSPRESS.COM - Ketika kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI) semakin mampu meniru suara, merekayasa identitas, dan menyusun pesan penipuan yang meyakinkan, dunia menghadapi pertanyaan yang semakin mendesak, apakah manusia sudah cukup siap menghadapi teknologi yang terus berkembang?
Selama ini, keamanan siber lebih sering dibicarakan melalui kekuatan sistem, jaringan, pusat data, dan kemampuan mendeteksi serangan.
Namun, ancaman digital tidak hanya mengeksploitasi kelemahan teknologi. Pelaku kejahatan juga memanfaatkan ketidaktahuan, kebiasaan, dan kerentanan manusia.
Perspektif ini disampaikan Assoc. Prof. Dr. Devie Rahmawati, CICS, akademisi Program Vokasi Universitas Indonesia, yang menjadi salah satu pembicara dalam rangkaian Global Digital Forum II 2026 di Moskow.
BACA JUGA:Kuota Internet Tak Hangus Belum Berlaku Penuh, Meutya Hafid Beri Operator Tenggat 3 Bulan
BACA JUGA:Begini Cara Berhenti Langganan Instagram Eksklusif Artis Tanpa Nonaktifkan Akun
Ajang dunia ini mempertemukan akademisi, pengembang teknologi, pelaku industri, dan pemangku kepentingan digital dengan partisipasi lebih dari 100 negara, dihadiri lebih dari 1.000 pakar teknologi informasi, 50 tamu VVIP (level menteri), serta lebih dari 50 perusahaan teknologi.
Melalui presentasi bertajuk Can AI Speak Our Language Without Understanding Our Humanity?, Devie menekankan pentingnya membangun teknologi yang tidak hanya semakin cerdas, tetapi juga semakin memahami kebutuhan dan keselamatan manusia.
Dalam konteks Indonesia, co-author buku Communication Technology and Society. Exploring The Multicultural and Digital World ini memberikan apresiasi terhadap peran Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dalam memperkuat keamanan serta ketahanan siber nasional, termasuk melalui pengembangan IKBKS sebagai instrumen pengukuran kesadaran, perilaku, dan literasi keamanan digital.
“Dunia menghabiskan sumber daya yang sangat besar untuk mengukur keamanan sistem. Tetapi ada pertanyaan yang sama pentingnya: seberapa serius kita mengukur kesiapan manusia yang menggunakan sistem tersebut?” ujar Devie.
Menurutnya, pendekatan BSSN menarik karena membuka peluang memanfaatkan AI bukan hanya sebagai teknologi yang harus diamankan, melainkan juga sebagai sarana membantu masyarakat memahami dan mengurangi kerentanan digital.
“Jangan hanya menggunakan AI untuk menemukan kelemahan sistem. Gunakan juga AI untuk membantu manusia menjadi semakin sulit diperdaya.
Devie menjelaskan bahwa perkembangan teknologi mendorong perubahan penting dalam cara memahami keamanan digital. Konsep cybersecurity menekankan perlindungan sistem, data, jaringan, dan layanan dari ancaman siber.
Sementara cyber resilience atau ketahanan siber menambahkan pertanyaan yang lebih luas ketika ancaman tetap terjadi, apakah individu dan organisasi mampu mengenalinya, merespons, mempertahankan fungsi penting, memulihkan diri, dan belajar dari pengalaman?
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

