Banner HONDA

Serangan Houthi Guncang Riyadh, 12 Orang Tewas dan Ratusan Terluka

Serangan Houthi Guncang Riyadh, 12 Orang Tewas dan Ratusan Terluka

Bandara Internasional King Khalid Riyadh Arab Saudi dihantam Rudal Houthi pada Kamis 8 Oktober yang menyebabkan jatuhnya korban 3 tewas dan 100 penerbangan dibatalkan.-dok disway-

BENGKULUEKSPRESS.COM - Serangan kelompok Houthi di Bandara Internasional King Khalid, Riyadh, Arab Saudi pada Sabtu, 10 Oktober 2026 menewaskan 12 orang.

Sejumlah jemaah umrah menjadi korban dalam serangan yang dilancarkan kelompok Houthi, dalam insiden ini 309 orang lainnya mengalami luka.

Otoritas Penerbangan Sipil Umum Arab Saudi menginformasikan sejumlah korban luka berada dalam kondisi serius.

Sementara, korban tewan terdiri dari empat warga negara Arab Saudi, dua warga Bangladesh, dan masing-masing satu warga Amerika Serikat, Yordania, Palestina, Suriah, Sudan, dan Mesir.

BACA JUGA:Angelina Jolie Ungkap Kehancuran Gaza dari Citra Satelit, John Herdman Serukan Bantuan Palestina

BACA JUGA:AS Tinggalkan Irak, Pasukan Terakhir Resmi Ditarik Usai Lebih dari 20 Tahun

Serangan kelompok Houthi membuat otoritas Arab Saudi menghentikan sementara operasional Bandara Internasional King Khalid dan sejumlah penerbangan dialihkan.

Koalisi pimpinan Arab Saudi di Yaman sebelumnya menyampaikan sebuah proyektil tak dikenal menghantam Terminal 4 bandara hingga memicu kebakaran pada Minggu, 11 Oktober 2026 sore waktu setempat.

Serangan tersebut berlangsung sehari setelah insiden serupa di bandara yang sama menewaskan 12 orang dan menyebabkan lebih dari 300 lainnya mengalami luka-luka.

Koalisi yang dipimpin Arab Saudi menuding kelompok Houthi asal Yaman berada di balik serangan itu. 

Koalisi juga berjanji akan mengambil tindakan tegas dan mengecam serangan tersebut sebagai pelanggaran terhadap hukum humaniter internasional.

Menurut laporan AFP, kelompok Houthi yang mendapat dukungan Iran pada mengaku telah melancarkan serangkaian serangan dalam kurun waktu 24 jam terakhir, termasuk menyasar bandara tersebut. 

Kelompok itu juga mengancam akan terus menjadikan pusat-pusat transportasi di wilayah kerajaan sebagai target, dengan menyebut lokasi-lokasi tersebut sebagai bagian dari medan operasi militer mereka.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: