Hadapi Musim Kemarau, Pemprov Bengkulu Bentuk Tim Jaga Api untuk Antisipasi Karhutla
Hadapi Musim Kemarau, Pemprov Bengkulu Bentuk Tim Jaga Api untuk Antisipasi Karhutla-IST-
BENGKULUEKSPRESS.COM – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu mulai memperketat kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) seiring berlangsungnya musim kemarau. Meski Bengkulu belum masuk daerah dengan tingkat kejadian karhutla yang tinggi secara nasional, pemerintah daerah tidak ingin lengah dan menunggu munculnya titik api baru kemudian bertindak.
Salah satu langkah yang disiapkan adalah membentuk “Tim Jaga Api” yang akan melakukan patroli dan pengawasan secara berkala di sejumlah kawasan yang dinilai rawan kebakaran.
Langkah tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Pencegahan, Mitigasi, dan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan di Provinsi Bengkulu, yang digelar di Aula Merah Putih Kantor Gubernur Bengkulu, Selasa (1/9/2026).
Rakor tersebut dihadiri Wakil Gubernur Bengkulu Mian, Kapolda Bengkulu Irjen Pol Yudhi Sulistianto Wahid, serta Staf Ahli Bidang Perubahan Iklim Kementerian Kehutanan RI Prof. Dr. Haruni Krisnawati yang mengikuti rapat secara daring.
BACA JUGA:Kepemilikan KIA di Kota Bengkulu Capai 67,5 Persen, Disdukcapil Targetkan 100 Persen pada 2027-2028
BACA JUGA:Winarno Rangkap Jabatan, Ditunjuk Jadi Plt Kepala DLH Mukomuko
Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kesiapsiagaan lintas sektor menghadapi potensi karhutla selama musim kemarau, termasuk menyusun pola patroli, memperkuat koordinasi hingga memastikan kesiapan personel dan sarana penanganan apabila kebakaran terjadi.
Staf Ahli Bidang Perubahan Iklim Kementerian Kehutanan RI, Prof. Dr. Haruni Krisnawati, menegaskan bahwa keberhasilan pengendalian karhutla tidak hanya bergantung pada kemampuan pemadaman ketika api sudah membesar. Upaya pencegahan harus menjadi prioritas utama.
Menurutnya, terdapat tiga hal yang harus diperkuat oleh seluruh pemangku kepentingan, yakni koordinasi, kolaborasi, dan kepemimpinan yang kuat.
“Ada tiga hal yang harus dilakukan dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan, yaitu koordinasi, kolaborasi, dan kepemimpinan yang kuat dalam mengendalikan kebakaran hutan yang mengedepankan pencegahan,” kata Haruni.
Ia menekankan pentingnya seluruh unsur pemerintah, aparat penegak hukum, dunia usaha hingga masyarakat bergerak dalam satu pola penanganan. Dengan begitu, potensi kebakaran dapat diketahui dan ditangani sedini mungkin sebelum berkembang menjadi bencana yang lebih luas.
Secara nasional, Bengkulu memang belum menjadi salah satu wilayah yang mendapat sorotan utama akibat tingginya kejadian karhutla selama musim kemarau. Namun, kondisi tersebut dinilai bukan alasan untuk menurunkan tingkat kewaspadaan.
Terlebih, berdasarkan informasi BMKG Bengkulu, musim penghujan diperkirakan baru mulai kembali pada akhir Oktober. Artinya, masih terdapat periode kemarau yang harus diantisipasi dengan kesiapsiagaan maksimal.
Pemprov Bengkulu pun mendorong penguatan koordinasi dengan berbagai instansi teknis, terutama pihak yang memiliki peran dalam pencegahan, pemantauan, hingga penanganan karhutla.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

