Banner HONDA
BPBD

HIV di Bengkulu Capai 1.235 Kasus, Dinkes Perluas Layanan Pengobatan

HIV di Bengkulu Capai 1.235 Kasus, Dinkes Perluas Layanan Pengobatan

Nelli Hartati-IST-

BENGKULUEKSPRESS.COM - Pemerintah Kota Bengkulu melalui Dinas Kesehatan terus memperkuat upaya penanggulangan HIV dengan memperluas layanan skrining dan pengobatan di berbagai fasilitas kesehatan. 

Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan deteksi dini sekaligus memastikan pasien mendapatkan penanganan yang tepat dan berkelanjutan.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Kesehatan Kota Bengkulu, Nelli Hartati, SK., MM, mengungkapkan bahwa saat ini sebanyak 20 Puskesmas di Kota Bengkulu telah mampu melaksanakan skrining HIV

Selain itu, layanan deteksi dini juga didukung oleh enam rumah sakit pemerintah, lima rumah sakit swasta, serta 51 klinik yang turut berperan aktif.

“Dengan banyaknya fasilitas layanan kesehatan yang tersedia, diharapkan mampu memberikan dukungan dan layanan prima bagi masyarakat,” ujar Nelli.

BACA JUGA:Dishub Kota Bengkulu Data Ulang Transportasi, Angkot Didorong Kembali Aktif

BACA JUGA:Dorong Ekonomi Hijau, Mukomuko Gandeng Investor Global

Ia menambahkan, dari seluruh fasilitas tersebut, terdapat 21 layanan kesehatan yang telah mampu memberikan pengobatan HIV. Fasilitas tersebut terdiri dari sembilan rumah sakit, tiga klinik, dan sembilan Puskesmas.

Berdasarkan data yang dihimpun sejak tahun 2001 hingga 2026, jumlah kasus HIV yang berhasil ditemukan di Kota Bengkulu mencapai 1.235 kasus. Sementara itu, pada periode Januari hingga Maret 2026, tercatat sebanyak 32 kasus baru.

Menurut Nelli, capaian tersebut tidak terlepas dari kerja sama berbagai pihak, termasuk lembaga masyarakat dan dukungan pemerintah daerah. 

Ia juga mengapresiasi keterlibatan Satpol PP yang kini turut membantu menjangkau kelompok sasaran berisiko, sehingga proses penemuan kasus dapat dilakukan lebih optimal.

Namun demikian, ia mengakui masih terdapat tantangan dalam penanganan HIV, salah satunya adalah stigma yang masih melekat di masyarakat. Kondisi ini kerap membuat penderita enggan melakukan pemeriksaan sejak dini.

“Keterlambatan penanganan sering disebabkan oleh stigma yang masih dirasakan oleh penderita. Banyak yang khawatir dan takut diketahui orang lain, sehingga enggan memeriksakan diri. Akibatnya, saat datang ke fasilitas kesehatan, kondisi sudah dalam tahap lanjut dan lebih sulit ditangani,” jelasnya.

Untuk itu, Dinas Kesehatan mengajak seluruh masyarakat, khususnya kelompok dengan faktor risiko, agar tidak ragu melakukan pemeriksaan sejak dini. Dengan deteksi dan pengobatan yang tepat waktu, kualitas hidup penderita dapat tetap terjaga sekaligus menekan risiko penularan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: