Banner HONDA
BPBD

Geliat Roda Ekonomi di Balik Arus Mudik: Antara Tradisi dan Potensi Kebijakan “Gerak Bersama"

Geliat Roda Ekonomi di Balik Arus Mudik: Antara Tradisi dan Potensi Kebijakan “Gerak Bersama

Saeed Kamyabi--

BENGKULUEKSPRES.COM - Setiap tahun, Indonesia mengalami fenomena luar biasa yang tidak hanya menyentuh aspek sosial budaya, tetapi juga mengguncang struktur ekonomi nasional: Pulang Kampung (Pulkam).

Apa yang terjadi dalam rentang H-7 hingga H+7 Lebaran adalah perpindahan massal manusia terbesar kedua di dunia setelah China. Ini bukan sekadar tradisi; ini adalah reset ekonomi geografis Indonesia.

Ledakan Ekonomi dalam Hitungan Hari

Bayangkan angka ini: Pada musim mudik Lebaran 2024 saja, pergerakan masyarakat diprediksi mencapai 193,6 juta orang, tahun 2025 sampai154 juta. Angka ini setara dengan 70% populasi Indonesia yang berpindah tempat dalam waktu kurang dari dua minggu.

BACAJUGA:Wagub Mian Gelar Halalbihalal dan Santap Sajian UMKM

BACA JUGA:Terkait Beredar Mobil Dinas Parkir di Depan Warung Remang-Remang, Ini Tanggapan Assisten II Pemkot Bengkulu

Fenomena ini menciptakan gelombang ekonomi yang dahsyat:

1. Belanja Konsumsi: Nilai perputaran uang selama mudik mencapai angka triliunan rupiah. Dari parsel oleh-oleh khas Jakarta yang dibawa ke kampung, hingga belanja pangan segar di pasar tradisional daerah tujuan. Masyarakat kelas menengah perkotaan membawa uang tunai dalam jumlah besar ke desa-desa, menciptakan efek multiplier effect yang signifikan bagi ekonomi pedesaan.

2. Transportasi: Operator transportasi darat, laut, dan udara mengalami masa panen. Pendapatan PT KAI, maskapai penerbangan, dan jasa tol dalam sebulan bisa melebihi pendapatan tiga bulan biasa. Tak hanya itu, industri otomotif juga mencatat peningkatan penjualan kendaraan pasca-mudik karena masyarakat merasa perlu kendaraan yang lebih layak untuk perjalanan jauh.

3. Akomodasi: Hotel bintang 2 hingga 5 di kota-kota kecil yang biasanya sepi mendadak penuh. Homestay dan jasa sewa villa di daerah wisata yang dilalui jalur mudik seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, hingga Sumatera Utara melonjak harga hingga 200%.

Pulkam adalah mesin ekonomi yang bergerak sendiri, digerakkan oleh hati dan tradisi, tanpa perlu suntikan anggaran iklan dari pemerintah.

Skenario “Jika” Pergerakan Ini Dilegalkan dan Dijadikan Aturan

Sekarang, mari kita mainkan sebuah skenario besar: Bagaimana jika pergerakan ekonomi ini tidak hanya terjadi setahun sekali? Bagaimana jika pemerintah melembagakan mobilitas ini menjadi sebuah kebijakan rutin?

Bayangkan jika pemerintah menerbitkan regulasi atau “perintah” yang mewajibkan setiap bulan ada segolongan manusia yang bergerak ke kampung halamannya. Bukan sekadar liburan, tetapi melalui struktur organisasi masyarakat (Ormas), Organisasi Sosial Politik (Orsospol), hingga aparatur sipil negara (ASN).

1. ASN sebagai Garda Terdepan: Pulkam dan Jakam

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: